Jumat, 24 Oktober 2008

Ranginang Vs. Rangunung

ka









Assalamu'alaikum sahabat-sahabatku tercinta. Sudah lama ya kita enggak ngobrol-ngobrol lagi setelah lebaran. Mumpung masih syawal, ngucapin taqabbalallahu minna wa minkum sepertinya masih berlaku, ya? Mohon maaf lahir batin. Semoga latihan kita selama sebulan penuh ada 'bekas'nya buat bekal kita ke depan. Amin.
Mumpung masih terasa momen lebaran kemaren, aku pengen bagi2 pengalaman yang menurutku perlu diketahui oleh orang lain juga. Kalo udah tahu, ya...terima kasih. Kalo penasaran pengen tahu, silakan deh simak perjalanan silaturahimku dari satu rumah ke rumah lainnya saat berlebaran pada 1 Oktober 2008 yang lalu.
Sebenarnya apa sih yang menarik dari perayaan lebaran? Sungkeman dan momen istimewa yang sensasinya hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang merindukan shaum dan iedul fitri, tentu saja itu saat-saat yang sangat dinantikan dan menarik untuk dirasakan. Namun, selain itu, banyak hal baru atau malah tradisi berulang yang sangat dirindukan, seperti wisata kuliner gratisan. Bener, enggak sih?
Seperti biasa, setiap keluarga sibuk menyiapkan makanan khas lebaran from A to Z untuk menyambut keluarga dan kerabat. Kue-kue lebaran, ketupat dan opor, kacang lebaran, serta kembang gula buat anak-anak, dan yang lainnya, itu sih sudah bukan hal yang aneh lagi. Mau yang sedikit berbeda?
Aku paling seneng berkunjung ke rumah nenekku karena di sana ada makanan-makanan yang tidak lazim ada saat lebaran. Tahu ranginang? Sepertinya penganan yang satu ini sudah banyak dikenal. Rasanya khas dan enak. Sumpah! Aku suka banget. Enaknya kalo makan ranginang pake saos sambal pedas atau bisa juga dicemplungin ke dalam kuah mie instan, mmm, yummy! Sok aja coba. Tapi, kalaupun ga ada saos atau kuah mie instan, enak juga kok dimakan tanpa ada pelengkapnya.
Nah, yang satu ini sedikit berbeda. Dari namanya juga beda, beda huruf vokalnya saja. Dan rasanya juga beda, tapi tetep aja uenak. Entahlah kalo orang lain, tapi menurutku, enak banget. Namanya unik, rangunung! Nama itu baru aku kenal tahun ini juga. Wah, orang Sunda emang pada kreatif. Segala hal bisa menjadi makanan yang unik, khas, dan tentu saja enak. Bahan rangunung emang berbeda dari ranginang. Katanya kalo rangunung terbuat dari beras, sedangkan ranginang dari beras ketan. Penasaran pengen tahu wujudnya? Okeh deh, aku pasti kasih tahu, kok lewat foto aja, ya. Kalo masih penasaran rasanya, mmm, gimana, ya? Aku juga tak tahu persis di mana penganan yang satu ini bisa didapat. Yang jelas, waktu lebaran itu, keluargaku juga dapetinnya dari orang lain yang bisa bikin, tapi enggak jualan.
Masih ada dua makanan yang aku suka saat berlebaran di rumah nenekku: kerupuk mie siram kuah dan tape ketan hitam plus es krim, uenak tenan. Biasanya kalo sudah ada makanan yang seperti itu, kue keju, kue salju, brownies, dan teman-temannya jadi enggak laku, enggak lagi jadi primadona. Kalo makanan yang aneh-aneh itu habis, baru deh beralih ke kue-kue itu. Emang, ya, yang sedikit aneh dan jarang didapat itu suka diburu banyak orang. Kalo sahabat-sahabat yang ngaku 'jurig' wisata kuliner pas kebetulan saja ada di Bandung, coba deh cari makanan yang aku gemari itu. Kalo dapet, kamu bener2 'jurig' wisata kuliner sejati! Selamat berburu!

(Tulisan ini disiapin enggak lama setelah lebaran, sayangnya baru bisa dipublish setelah Syawal berlalu)
Keterangan Foto: (1) Ranginang (2) Rangunung (3) Kerupuk Mie Siram Kuah (4) Tape Ketan Hitam




1 komentar:

niehands mengatakan...

nyam...nyam...nyam...